Posts

Tidak Cukup

Tidak cukup jika kamu hanya mengajukan satu topik kepada pembimbing skripsimu. Sama halnya dengan hanya satu posting di blog mu setelah sekian lama tiada menulis pilu. Tidak cukup ketika kamu hanya mengeluhkan masalah dan keresahan-keresahanmu. Tanpa dialog panjang semu yang membawamu sampai ke ujung pagi. Halo, Pagi, apakah sudah ada solusi?

Terkadang

Terkadang kita berpikir menulis itu mudah. Bukankah hanya menuangkan apa yang ada di dalam kepala? Bukankah hanya menumpahkan apa yang tertampung di hati? Atau ceritakan sajalah rutinitasmu hari ini. Terkadang aku terlena oleh diksi. Ketika hari-hari kulalui dengan sang putri. Ketika marah membara dan cinta membuncah pada waktu yang sama. Terkadang aku hanya igin sendiri dalam pikiran yang berkelana. Terkadang marahku menjadi duri. Kemudian tangismu menjadi senjata. Lalu pelukku adalah harga mati. Wahai sayangku, sungguh engkau inginnya apa? Ya, terkadang.. hanyalah terkadang. Terkadang aku lupa dan menjadi garang. Tanpa ingat bahwa kita adalah selamanya. Dan selamanya.. adalah selamanya.

Buku Merah Muda

Mengapa aku terbelenggu dalam masa lalu yang muncul seketika saat kulihat buku merah muda berisikan tentangmu yang nyatanya sengaja kukubur di setiap halaman-halamannya? Mengapa pelajaran yang kamu berikan terlalu berharga untuk dilewatkan dan dilupakan sementara aku sang murid kehidupan selalu dicoba dan dipaksa untuk mengerti? Mengapa yang aku yakini hingga detik ini tidak cukup menjadi alasanku untuk memahami?

Kamu Bisa Saja Melakukannya

Terkadang kita lupa. Lupa mencintai diri sendiri. Lupa menghargai usaha sendiri. Lupa cara untuk berbahagia. Lupa bahwa suatu saat air mata akan mengering juga. Awalnya kamu berpikir kamu akan bahagia merawat seseorang yang bukan kamu ataupun pasanganmu, makhluk mungil yang menyimpan banyak misteri, yang dengan wajah polosnya kamu lahirkan ke dunia. Kamu berpikir inilah yang kamu inginkan, menjadi seorang ibu atas seorang anak suci tak berdosa bagaikan kertas putih tanpa noda. Kamu ingin menjadi pelindungnya, pengasuhnya, menyayanginya dengan segenap hati dan pikiranmu hingga seakan kamu rela menjual jiwamu untuknya. Kamu membayangkan alangkah utuhnya kamu dan pasanganmu memiliki makhluk kecil di antara kalian. Sungguh definisi keluarga yang sempurna. Kesempurnaan itu hanya ada di dalam bayangmu. Tangis anakmu tak mau berhenti, menyusuinya pun terasa begitu menyakitkan karena kamu lakukan berulang-ulang per dua jam dengan posisi yang salah karena kamu belum mahir. Ya, kamu...

2019

"Aku tidak bisa menulis di kala aku bahagia," katamu. "Benarkah?" ujarku. "Lalu bagaimana dengan mata pencaharianmu?" Kamu menghela napas panjang. "Tidakkah kamu memperhatikan? Aku sudah tidak menulis selama satu tahun. Satu tahun terbaikku!" Aku menggeleng tidak mengerti. Menulis adalah pelarianmu. Permainan kata-kata adalah candumu. Bagaimana mungkin di saat-saat terbaikmu kamu memutuskan untuk berhenti menulis? Kamu menatapku lembut seakan membaca pikiranku. "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tahu," desahmu. Aku menoleh ke arahmu. Tubuhmu berbaring santai di padang rumput dengan kedua tangan terbentang dan mata terpejam. Senyummu merekah, berubah menjadi tawa bahagia saat semakin dalam aku menatapmu. "Kupikir setiap orang punya ketakutan yang berbeda-beda. Tapi nyatanya ketakutan semua orang sama," suaramu bagaikan nyanyian riang, sungguh tidak sepadan dengan kata-katamu. "Ketakutan apa itu?" tanyaku. ...

Sandra Anakku Sayang

Sandra anakku sayang, Ibumu adalah orang yang paling mencintaimu yang pernah kutahu Kamu adalah dunia ibumu, dan ibumu adalah duniamu Segalanya akan ia berikan kepadamu Waktu, energi, darah, air mata Peluh, nyanyi, amarah, tawa Sandra anakku sayang, Ibumu hanyalah seorang ibu biasa Ia tertawa saat bahagia Ia tetap tertawa saat pura-pura bahagia -- demi membahagiakanmu Ia tersenyum saat kamu tidak mau tidur Ia tetap tersenyum saat kamu tidak ingin makan Lalu ia memecah tangis dalam kesendirian pada titik terendahnya Sandra anakku sayang, Kamu harus maafkan ibumu jika suatu hari ia tak bermuka manis Menggigit bibir, menahan tangis Karena ibumu hanyalah ibu biasa Hatinya penuh cinta kepadamu, itulah mengapa Mengapa ia bersamamu siang dan malam terus-menerus Mengapa ia berpikir tentangmu tak putus-putus Mengapa kadang ia tak tidur karena hanya ingin memandangimu Mengapa kadang ia berpikir ia tak pantas menjadi ibumu Sandra anakku sayang, Kadang ibumu ingin lari saja dan tak kembali ...

Abnormal

Apakah aku menjelma menjadi suatu anomali ketika kamu terlalu lama pergi hingga hampir tak pernah lagi kutemukan aroma khas tubuhmu pagi-pagi saat ku mengawali hari dengan membuka mata? Apakah aku menjelma menjadi makhluk malam bersayap ketika saat ini jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi dan aku masih di sini menuliskan kata-kata hampa tentang kamu yang terlalu lama pergi?