Terkadang

Terkadang kita berpikir menulis itu mudah.

Bukankah hanya menuangkan apa yang ada di dalam kepala?

Bukankah hanya menumpahkan apa yang tertampung di hati?

Atau ceritakan sajalah rutinitasmu hari ini.


Terkadang aku terlena oleh diksi.

Ketika hari-hari kulalui dengan sang putri.

Ketika marah membara dan cinta membuncah pada waktu yang sama.

Terkadang aku hanya igin sendiri dalam pikiran yang berkelana.


Terkadang marahku menjadi duri.

Kemudian tangismu menjadi senjata.

Lalu pelukku adalah harga mati.

Wahai sayangku, sungguh engkau inginnya apa?


Ya, terkadang.. hanyalah terkadang.

Terkadang aku lupa dan menjadi garang.

Tanpa ingat bahwa kita adalah selamanya.

Dan selamanya.. adalah selamanya.

Comments