Kamu Bisa Saja Melakukannya

Terkadang kita lupa.

Lupa mencintai diri sendiri.

Lupa menghargai usaha sendiri.

Lupa cara untuk berbahagia.

Lupa bahwa suatu saat air mata akan mengering juga.

Awalnya kamu berpikir kamu akan bahagia merawat seseorang yang bukan kamu ataupun pasanganmu, makhluk mungil yang menyimpan banyak misteri, yang dengan wajah polosnya kamu lahirkan ke dunia. Kamu berpikir inilah yang kamu inginkan, menjadi seorang ibu atas seorang anak suci tak berdosa bagaikan kertas putih tanpa noda. Kamu ingin menjadi pelindungnya, pengasuhnya, menyayanginya dengan segenap hati dan pikiranmu hingga seakan kamu rela menjual jiwamu untuknya. Kamu membayangkan alangkah utuhnya kamu dan pasanganmu memiliki makhluk kecil di antara kalian. Sungguh definisi keluarga yang sempurna.

Kesempurnaan itu hanya ada di dalam bayangmu.

Tangis anakmu tak mau berhenti, menyusuinya pun terasa begitu menyakitkan karena kamu lakukan berulang-ulang per dua jam dengan posisi yang salah karena kamu belum mahir. Ya, kamu, sang ibu baru. Malam yang terasa panjang kamu lalui dengan mata terbuka hampir sampai pagi. Kamu terbiasa terjaga, kebiasaan yang telah kamu bangun selama dua puluh tujuh tahun pun berantakan. Tidak ada artinya lagi siang dan malam, keduanya sama. Tangisan per dua jam itu bagai memekik tepat di telingamu, dengan frustasi kamu pun pasrah dengan keadaan. Inikah yang kamu nilai sebagai suatu bentuk kebahagiaan?

Kamu termenung. Jelas bukan ini yang kamu harapkan.

Kamu. Berharap. Anakmu. Diam. Dan. Kamu. Bisa. Beristirahat. Sejenak.

Tahukan kamu? Kamu bisa saja melakukannya.

Berhenti dan beristirahatlah. Terkadang kamu butuh mencintai dirimu lebih dari kamu mencintai yang bukan dirimu. Bukan berarti kamu egois. Mencintaimu dan egomu adalah syarat dirimu dapat memberikan cinta yang lebih besar lagi kepada yang bukan dirimu. Ya, kamu tidak punya pilihan.

Kamu dituntut untuk mengasuh anakmu.

Kamu dituntut untuk memastikan anakmu tumbuh dengan sempurna.

Kamu dituntut untuk mengasihi anakmu dengan sepenuh hatimu.

Kamu dituntut untuk bersabar menghadapi anakmu tanpa kenal yang namanya batas.

 

Namun di atas itu semua, kamu dituntut untuk bahagia.

 

Bahagia adalah kewajiban untukmu, wahai ibu baru. Ya, kamu. Itu kewajibanmu.

Dan seperti yang kita tahu,

Kamu bisa saja melakukannya.

Comments