2019
"Aku tidak bisa menulis di kala aku bahagia," katamu.
"Benarkah?" ujarku. "Lalu bagaimana dengan mata pencaharianmu?"
Kamu menghela napas panjang.
"Tidakkah kamu memperhatikan? Aku sudah tidak menulis selama satu tahun. Satu tahun terbaikku!"
Aku menggeleng tidak mengerti. Menulis adalah pelarianmu. Permainan kata-kata adalah candumu. Bagaimana mungkin di saat-saat terbaikmu kamu memutuskan untuk berhenti menulis?
Kamu menatapku lembut seakan membaca pikiranku. "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tahu," desahmu.
Aku menoleh ke arahmu. Tubuhmu berbaring santai di padang rumput dengan kedua tangan terbentang dan mata terpejam. Senyummu merekah, berubah menjadi tawa bahagia saat semakin dalam aku menatapmu.
"Kupikir setiap orang punya ketakutan yang berbeda-beda. Tapi nyatanya ketakutan semua orang sama," suaramu bagaikan nyanyian riang, sungguh tidak sepadan dengan kata-katamu.
"Ketakutan apa itu?" tanyaku.
"Ketakutan akan kesendirian," kamu menjawab pertanyaanku.
Aku terduduk otomatis. "Jawaban macam apa itu?" sanggahku.
Kamu tersenyum. Matamu telah terbuka, kini menerawang jauh menembus langit malam di atasmu.
"Benarkah?" ujarku. "Lalu bagaimana dengan mata pencaharianmu?"
Kamu menghela napas panjang.
"Tidakkah kamu memperhatikan? Aku sudah tidak menulis selama satu tahun. Satu tahun terbaikku!"
Aku menggeleng tidak mengerti. Menulis adalah pelarianmu. Permainan kata-kata adalah candumu. Bagaimana mungkin di saat-saat terbaikmu kamu memutuskan untuk berhenti menulis?
Kamu menatapku lembut seakan membaca pikiranku. "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tahu," desahmu.
Aku menoleh ke arahmu. Tubuhmu berbaring santai di padang rumput dengan kedua tangan terbentang dan mata terpejam. Senyummu merekah, berubah menjadi tawa bahagia saat semakin dalam aku menatapmu.
"Kupikir setiap orang punya ketakutan yang berbeda-beda. Tapi nyatanya ketakutan semua orang sama," suaramu bagaikan nyanyian riang, sungguh tidak sepadan dengan kata-katamu.
"Ketakutan apa itu?" tanyaku.
"Ketakutan akan kesendirian," kamu menjawab pertanyaanku.
Aku terduduk otomatis. "Jawaban macam apa itu?" sanggahku.
Kamu tersenyum. Matamu telah terbuka, kini menerawang jauh menembus langit malam di atasmu.
Comments
Post a Comment
COMMENTS