Kuinjak Rem Kuat-kuat
Tahukah, Ayah, betapa aku menantikan saat-saat menyetir? Saat aku memegang kemudi, segalanya bergelut rapat di dalam kendaliku. Saat aku menyentuh perseneling, semua hal tampak berada pada kuasaku. Oh, betapa kunantikan saat Ayah menunjuk ke arah mobil dengan dagu dan melemparkan kunci kepadaku.
Tahukah, Ayah, betapa aku menyukai derasnya adrenalin dalam tubuhku. Ketika ban mobil kita berjalan menderu-deru. Betapa tak ada yang terlintas di kepalaku selain memikirkan bagaimana mobil ini tetap melaju. Oh, aku suka, suka, suka, suka, suka sekali saat-saat itu.
Lucunya, setiap kali Ayah yang menyetir, aku duduk gelisah di jok samping pengemudi, mencoba mengira-ngira semua yang melintas di depan mataku. Menaksir apakah sebelah kiri akan disambar motor, menjerit histeris ketika Ayah berhenti terlalu dekat di belakang mobil. Berdebar-debar ketika harus bersisian dengan kontainer, menjerit senang di dalam hati ketika melewati jalan tol yang lapang. Mengutuk motor-motor yang Ayah klakson keras-keras, memperhatikan kaca spion setiap memasuki underpass dan di sisi pertemuan dua jalan besar.
Bahkan, Ayah, Ayah pasti tidak tahu tentang yang satu ini.
Aku memiliki rem imajiner, Ayah, setiap kali kita terperangkap kemacetan dan Ayah berulang kali mengerem mendadak. Setiap kali hal itu terjadi, kakiku mengencang, kuinjak rem kuat-kuat di jok samping pengemudi. Terutama saat macet di tanjakan, kaki kiriku turut berimprovisasi dengan kopling dan gas imajiner. Menarik ulur kaki kiri dan memijakkan kaki kanan berulang kali. Berharap rem, kopling, dan gas imajinerku turut menghentikan mobil yang melaju kencang.
Jadi, Ayah tidak usah khawatir akan mobil kita. Ataupun keselamatan kita. Karena telah kuinjak rem kuat-kuat.
Ya, Ayah, kuinjak rem kuat-kuat.
Tahukah, Ayah, betapa aku menyukai derasnya adrenalin dalam tubuhku. Ketika ban mobil kita berjalan menderu-deru. Betapa tak ada yang terlintas di kepalaku selain memikirkan bagaimana mobil ini tetap melaju. Oh, aku suka, suka, suka, suka, suka sekali saat-saat itu.
Lucunya, setiap kali Ayah yang menyetir, aku duduk gelisah di jok samping pengemudi, mencoba mengira-ngira semua yang melintas di depan mataku. Menaksir apakah sebelah kiri akan disambar motor, menjerit histeris ketika Ayah berhenti terlalu dekat di belakang mobil. Berdebar-debar ketika harus bersisian dengan kontainer, menjerit senang di dalam hati ketika melewati jalan tol yang lapang. Mengutuk motor-motor yang Ayah klakson keras-keras, memperhatikan kaca spion setiap memasuki underpass dan di sisi pertemuan dua jalan besar.
Bahkan, Ayah, Ayah pasti tidak tahu tentang yang satu ini.
Aku memiliki rem imajiner, Ayah, setiap kali kita terperangkap kemacetan dan Ayah berulang kali mengerem mendadak. Setiap kali hal itu terjadi, kakiku mengencang, kuinjak rem kuat-kuat di jok samping pengemudi. Terutama saat macet di tanjakan, kaki kiriku turut berimprovisasi dengan kopling dan gas imajiner. Menarik ulur kaki kiri dan memijakkan kaki kanan berulang kali. Berharap rem, kopling, dan gas imajinerku turut menghentikan mobil yang melaju kencang.
Jadi, Ayah tidak usah khawatir akan mobil kita. Ataupun keselamatan kita. Karena telah kuinjak rem kuat-kuat.
Ya, Ayah, kuinjak rem kuat-kuat.
Comments
Post a Comment
COMMENTS