Hanya Lewat Cerita

Tentu saja aku merasakan laramu
Walau beliau kukenal hanya lewat cerita lalu
Tentu aja aku terenyuh oleh duka yang kausimpan
Walau hanya lewat cerita ini aku mengungkapkan

Menurut cerita, kamu tidak pernah menyukai kisah tentang ibu. Syair lagu, adegan film, barisan puisi. Apa pun yang mengagungkan sosok ibu yang menurutmu klise. Kamu jauh lebih menyukai cerita tentang ayah. Bagimu, setetes keringat ayah berharga satu keluhan yang tak pernah terlisankan.

Ayah tidak pernah mengeluh. Itulah yang membuatmu sangat memuja ayah.

Namun aku tidak pernah melupakan raut kesedihan di wajahmu hari itu. Seakan akan duniamu penuh--oleh kehampaan. Seolah ada tangan tak kelihatan yang merenggut sinarmu, menghisap habis seluruh warnamu. Di detik itu aku tahu bahwa (mungkin saja) kamu mencintai ibumu lebih dari yang kamu sadari.

Aku akan kembali kepada klise yang kamu benci. Betapa sesuatu akan terasa begitu berharga ketika tiada. Betapa besarnya cinta baru dirasa ketika tak dapat lagi diucapkan kepada yang dicinta.

Aku dapat merasakan penyesalanmu. Namun ketabahanmu pun terlalu kokoh untuk tak kuhiraukan. Enggan menyentuh tembok pertahananmu, aku hanya dapat memolesnya dengan hati-hati dari luar. Merabanya perlahan dan mencoba mencari celah untuk kuselami. Mengorek petunjuk untuk sekedar mengintip luka tak terjamah yang masih segar.

Hanya lewat cerita dan aku tahu bagaimana ibumu mengasihimu. Betapa beliau mengomel karena kamu pergi malam-malam. Betapa kamu kesal karenanya. Betapa beliau memasak sup kepiting resep khusus keluargamu. Betapa kamu menyukainya. Betapa beliau membantumu membuat CV untuk melamar pekerjaan dan betapa itu menjadi kenangan terakhirmu dengan ibu.

Betapa kamu terlalu mirip dengan beliau dan mencintai persamaan di antara kalian.

Dan, tentu saja, kamu mencintai beliau lebih dari yang kamu tahu.

Ibuku selalu bilang, "Segala sesuatu akan terasa seperti pertama kali jika ibu telah tiada. Puasa pertama tanpa ibu, lebaran pertama tanpa ibu. Sedih luar biasa mendengar "Allahu Akbar" dikumandangkan di malam takbiran dan yang kamu rindukan saat itu hanyalah ibu yang telah mendahuluimu. Ekspresi wajahnya yang seolah-olah mengatakan 'Jangan khawatir, kamu, ibu, kita, akan baik-baik saja' di kala kamu merasa gelisah."

Aku ingin menangis bersamamu, menyeka air matamu, menemanimu mengobrol tentang ibu. Aku ingin berteriak aku mencintaimu, membelai wajahmu, dan menghabiskan sisa hatiku hanya untuk mencintaimu. Aku ingin diizinkan untuk selalu berada dekat denganmu, melakukan apa yang bisa kulakukan hanya untuk membuatmu merasa lebih baik.

Hanya untuk menghapus kesedihanmu walau hanya sementara.

Hanya lewat cerita ini aku dapat berbicara kepadamu.

Ah, dan aku sudah merasa cukup jika aku dapat mengetahui banyak hal hanya lewat cerita yang (mungkin) kamu ingin bagi denganku tentang ibu.


PS: I love you, A.

Comments