Terperangkap Hujan

Berlembar-lembar catatan, goresan kata-kata, tinta spidol yang selalu habis, dan aku masih di sini
Berbabak-babak tes kompetensi, serutan kayu, pensil yang memendek, dan kamu masih di sana
 
Tutur manis di lidah dan salam sayang bersua dalam satu frekuensi rasa
Layaknya saat kita belajar KPK dan FPB
Ketika angka-angka dipertemukan di satu kelipatan yang sama
Atau saat faktor terbesar ditemukan pada satu titik temu
 
Oh sayang, aku mencintaimu dengan rumit
Gejolak datang seolah memeluk hati yang terhimpit
Jalinan benang asa yang beradu, siap berkelit
Oh sayang, indah yang merasuk ini terasa berbelit-belit
 
Karena hujan sudah cukup deras menyapu rasaku, membawanya bersama tetes-tetes rindu 
Entah ke mana, mungkin tetap menari di udara
Atau jatuh di atas genting lantai dua
Kendati ia memilih jalannya untuk bermuara, aku tak pernah tahu
Lika-liku boleh melelahkan, hujan boleh memerangkap
Namun gelombang tetap menyampaikan pesan, hati tetap menangkap
Maka biarlah hujan terus bercerita
Tentang aku, kamu, aku dan kamu, yang menantinya reda dengan setia...
 
...entah sampai kapan.

Comments