Heart: Release and Relieved

Semuanya tentang perasaan. Problematika yang lagi-lagi berujung pada hati kita. Pohon masalah dengan cinta yang menjadi akar dan sepotong hati sebagai puncaknya. Kemudian puncak potongan itu akan berkohesi seutuhnya ataupun beradhesi terlalu kuat dengan udara menjadi serpihan-serpihan yang berserakan. Udara itu adalah nafasmu.

Jadi ketika kamu menghembuskan nafasmu hanya berjarak tiga puluh senti dari hatiku, ia menghirup sedikit demi sedikit paparan hatiku
Dan ketika kamu berhenti menghembuskan nafasmu, mungkin untuk selamanya, sudah tak ada lagi kepingan hati yang tersisa untuk saling menopang

Konyol.

Dan hari ini aku menertawakan kekonyolan itu bersama teman-temanku. Betapa kami adalah sekumpulan hati yang rapuh dan mudah tergores bahkan oleh karbondioksida yang terhembus setiap hari. Tertawa, ya, itulah yang kami lakukan. Heran akan personalitas kami saat putih abu-abu dan lambang OSIS masih melekat pada tubuh kami. Terkesima dengan proses pendewasaan yang membawa kami pada titik yang kami pikir takkan pernah kami capai. Takjub dengan diri kami yang sekarang, dengan pribadi yang berbeda; lebih tangguh, lebih bijaksana, lebih logis.

Kami Hawa yang takkan pernah logis sepenuhnya. Tapi bukan berarti Adam tak punya hati.

Pada akhirnya, kesimpulan yang kami ambil selalu selama. Sebesar apa pun kedewasaan mengubah kami, setakjub apa pun kami pada perubahannya, teori kami tetap klise. Relatif, kalau kata kamu. Segalanya berujung pada hati.

Ada banyak cerita tentang hati. Kamu mau yang mana? Menemukan cinta baru yang rasanya terlalu sempurna untuk dimiliki? Sehingga rasa bosan lebih mendominasi daripada rasa syukur. Mengejar cinta yang begitu dalam, mendebarkan, hingga jarak ratusan kilometer tak jadi masalah? Padahal kita sama-sama tahu itu terlarang. Namun yang terlarang selalu menantang, bukan? Atau kamu mau mendengar cerita tentang kamu? Tentang kekuatan gravitasi entah dari mana yang pada akhir setiap cerita cintaku selalu menarik pikiranku kepada kamu? Ah, kenapa aku berbicara tentang cinta padahal aku menawarkan cerita tentang hati?

Karena, seperti kamu tahu, cinta itu berbunda hati.

Dan sudah terlalu banyak hati-hati yang rusak, porak poranda, terbengkalai, terbelah dua (atau bahkan empat?), pecah berkeping-keping tersapu air mata perih. Mungkin kamu salah satu penyebabnya. Mungkin aku salah satu efeknya. Dan mungkin aku salah satu penyebabnya. Dan mungkin dia salah satu efeknya. Mungkin sudah waktunya kamu membersihkan kepingan-kepingan itu, mungkin sudah saatnya aku mengumpulkan pecahan yang amburadul di hadapanku. Menyelesaikan apa yang belum tuntas, mungkin dengan seuntai kata maaf yang tak ada artinya dibandingkan dengan sapuan hati yang bergelimpangan. Maafku mungkin sama tak berartinya dengan janji-janji kosong yang dilantunkan oleh pembawa hati. Tapi percayalah, maafku setulus Severus mencintai Lily yang mungkin dapat memahat kembali serpihan hati.

Apa yang kutulis mungkin bagimu terlihat seperti sampah. Namun setiap tekanan pada keyboard laptop buruk ini hanyalah tentangmu.

Ya, tentang kamu. Dan tentang aku yang ingin bercerita betapa ajaibnya hidup mengajarkan kita, betapa dalamnya Tuhan mengasihi kita. Betapa kita diberi perasaan yang disebut cinta dan betapa besarnya kita dapat mencintai. Betapa sayangnya Tuhan kepada kita saat Dia memberikan kehilangan sehingga kita jauh lebih memaknai kehidupan dibandingkan ketika kita diberi kesenangan. Betapa pertemuan yang berujung perpisahan membangunkan kita dari mimpi panjang di kehidupan yang sementara ini.

Aku sudah begitu berbedanya sehingga aku mampu melihat kehidupan dari perspektif semu
Aku sudah begitu berubahnya sehingga mungkin kamu tak mengenaliku lagi
Tapi hatiku tak seberbeda itu untuk berpaling dari hatimu
Dan cintaku tak seberubah itu untuk tetap kamu miliki

Comments