Critical Control Point
T O D A Y
I feel more useless than ever
Hazard Analysis Critical Control Point. Wuih, ga nyangka buku mungil (biarpun pinjeman) ini menginspirasi gw untuk menulis setelah sekian lama cukup ga produktif. HACCP, salah satu bahasan dari Mutu dan Keamanan Pangan yang cukup bikin pusing saking banyaknya hafalan yang harus diingat demi kelancaran ujian modul besok. Yeh, besok ujian kenapa malem ini malah ngeblog? Biarinlah biar seneng gw sekali-sekali. Karena akhir-akhir ini gw jarang banget merasakan kesenangan yang setidaknya bisa membuat hati gw tersenyum.
Kalo kata F.G. Winarno, HACCP adalah suatu sistem kontrol dalam upaya pencegahan terjadinya masalah yang didasarkan atas identifikasi titik-titik kritis di dalam tahap penanganan dan proses produksi. Sedap. Nah, titik kritis ini yang kita sebut dengan Critical Control Point atau gampangnya CCP. CCP ini adalah titik di mana suatu bahan makanan memiliki risiko besar untuk terkena bahaya (hazard) baik biologis, fisik, maupun kimia. Pinter deh gw. Oleh karena itulah CCP ini harus dikontrol, saudara-saudara. Gimana caranya? Contoh, CCP bumbu kacangnya pecel sayur adalah ketika penyimpanannya ga memadai dan memenuhi standar, bumbu ini berisiko terkontaminasi oleh jamur Aspergillus flavus yang menghasilkan racun aflatoksin. Nah, titik penyimpanan inilah yang harus dikontrol. Apa yang salah? Tempat penyimpannannyakah? Suhunya kah? Atau kadar air yang terkandung? Semuanya diatur sedemikian rupa sama HACCP, saudara-saudara, untuk memperkecil risiko bahaya yang dapat masuk ke dalam bahan makanan. Dengan demikian, sistem ini bersifat preventif dan ga mengandalkan pengujian tahap akhir.
CCP. Pada awalnya, gw sama sekali ga tertarik untuk membahas titik kritis ini lebih lanjut. Kenapa? Ya ga minatlah. Satu bahan makanan aja CCP-nya bisa banyak banget, belum lagi analisis bahaya yang harus ditelaah. Makasih deh. Sampai suatu hari gw merasa capek, capek banget. Gw ga pernah merasa selelah dan selemah ini sepanjang 19 tahun gw hidup. Rasanya akumulasi rasa capek gw baru terasa sekarang, di mana tugas kuliah, organisasi, kepanitiaan, dan kehidupan gw yang belibet numpuk jadi satu dan membimbing gw ke jurang awang-awang. Apa tuh jurang awang-awang? Haha bahasa planet. Ya jurang di mana semuanya ngawang ga jelas saking gw penatnya ngejalanin semua ini. Padahal salah langkah sedikit aja, gw bisa langsung terperosok ke kedalaman yang ga tau di mana ujungnya. Titik kritis, saudara-saudara. Rasanya gw sudah mencapai Critical Control Point sendiri yang muncul ketika kejenuhan gw mencapai puncaknya. Kenapa gw kekeuh mempertahankan kata "control" di sini? Karena di situlah poinnya, ketika gw mencapai titik ini, jelas harus terkontrol dan ga lepas kendali. Masalahnya, kawan, beberapa minggu yang lalu gw merasakan titik itu muncul tapi ga ada sedikit pun keinginan gw untuk mengontrolnya. Semua gw biarin berjalan tanpa campur tangan gw yang seharusnya sangat dibutuhkan pada saat itu. I dunno exactly why I acted like that, I... I'm just bored.
Kembali ke F.G. Winarno dan bumbu kacang, ternyata titik kritis ini ga cuma satu. Makanya tadi di definisi disebut "titik-titik kritis". Begitu pula dengan gw, titik kritis gw ga cuma satu. Di samping masalah kerjaan yang banyak banget, kehidupan pribadi (yang memang agak tertelantarkan) gw juga mulai bikin ulah. Aih, bikin ulah. Jelaslah di sini yang bikin ulah udah pasti gw, ga mungkin hidup gw mengatur gw kan? My life, my rules kalo kata status bbm temen gw. Hahaha.
Mari kita bermain dengan analogi. Biarpun gw ga jago-jago amat dibandingkan salah seorang temen baik yang senang akan permainan kata-kata. "Namanya juga usaha" kalo katanya mah. Haha ngelantur deh. Tapi harus gw akui, teman baik gw yang satu ini memiliki pengaruh yang besar buat hidup gw akhir-akhir ini. Entah kenapa semua teori dia tentang hidup kini beneran kejadian sama gw. Persis. Bahkan sampe kebawa mimpi. Ngeri juga.
Hidup itu penuh dengan pilihan-pilihan, bukan? Persis. Kalo kata J.K. Rowling tentang Harry Potter dan Voldemort "yang satu tidak bisa hidup ketika yang lain bertahan". Pada dasarnya, memang ga semua hal bisa kita dapatkan. Selalu ada pilihan dan konsekuensi dari pilihan yang kita tentukan. Masalahnya di sini adalah ketika kita ga tau mana yang harus kita pilih. Atau kita tau namun terlalu takut untuk memilih karena ga tau apa yang menanti kita di depan. Tapi itulah hidup, saudara-saudara sekalian, ketika kita tidak pernah bisa mengubah kejelasan menjadi kepastian tanpa adanya keberanian untuk mengambil risiko. Sebagian dari diri kita mungkin ga takut dengan risiko, tapi takut pada kenyataan yang akan muncul sebagai akibat dari pengambilan risiko tadi. Dan ketika pada akhirnya kita mengambil keputusan, ya, keputusan, apa yang ada di dalam pikiran kita saat beberapa waktu kemudian kita menyadari keputusan itu salah? Menyesal? Terlambat. Waktunya membuat keputusan selanjutnya.
Keputusan selanjutnya ini yang lebih sulit lagi. Mengapa sulit? Karena pengambilan keputusan ini akan mempengaruhi keputusan awal yang telah kita buat. Bisa jadi kita terkesan ga konsisten karenanya. Di sinilah titik kritisnya, ketika suatu proses berjalan sebagaimana mestinya, hazard berkeliaran di mana-mana dan akan mempengaruhi hasil akhir dari proses ini. Kalo hazard itu berhasil dihindari, selamatlah dan sempurnalah proses itu. Kalo ga... hhmmm, lagi-lagi berujung pada risiko yang harus kita ambil.
Haruskah kita terdiam? Menunggu? Menunggu sesuatu yang kita sendiri tak tau pasti apa itu?
Haruskah saya menyesal? Menyesali keputusan yang telah saya buat sendiri untuk hidup saya?
Haruskah saya kembali... ataukah tetap menari di sini?
Haruskah saya menelaah kembali pilihan-pilihan saya?
Haruskah, haruskah, haruskah?
"Takutlah pada kenyataan, namun beranilah menghadapinya" - a friend of mine
I feel more useless than ever
Hazard Analysis Critical Control Point. Wuih, ga nyangka buku mungil (biarpun pinjeman) ini menginspirasi gw untuk menulis setelah sekian lama cukup ga produktif. HACCP, salah satu bahasan dari Mutu dan Keamanan Pangan yang cukup bikin pusing saking banyaknya hafalan yang harus diingat demi kelancaran ujian modul besok. Yeh, besok ujian kenapa malem ini malah ngeblog? Biarinlah biar seneng gw sekali-sekali. Karena akhir-akhir ini gw jarang banget merasakan kesenangan yang setidaknya bisa membuat hati gw tersenyum.
Kalo kata F.G. Winarno, HACCP
CCP. Pada awalnya, gw sama sekali ga tertarik untuk membahas titik kritis ini lebih lanjut. Kenapa? Ya ga minatlah. Satu bahan makanan aja CCP-nya bisa banyak banget, belum lagi analisis bahaya yang harus ditelaah. Makasih deh. Sampai suatu hari gw merasa capek, capek banget. Gw ga pernah merasa selelah dan selemah ini sepanjang 19 tahun gw hidup. Rasanya akumulasi rasa capek gw baru terasa sekarang, di mana tugas kuliah, organisasi, kepanitiaan, dan kehidupan gw yang belibet numpuk jadi satu dan membimbing gw ke jurang awang-awang. Apa tuh jurang awang-awang? Haha bahasa planet. Ya jurang di mana semuanya ngawang ga jelas saking gw penatnya ngejalanin semua ini. Padahal salah langkah sedikit aja, gw bisa langsung terperosok ke kedalaman yang ga tau di mana ujungnya. Titik kritis, saudara-saudara. Rasanya gw sudah mencapai Critical Control Point sendiri yang muncul ketika kejenuhan gw mencapai puncaknya. Kenapa gw kekeuh mempertahankan kata "control" di sini? Karena di situlah poinnya, ketika gw mencapai titik ini, jelas harus terkontrol dan ga lepas kendali. Masalahnya, kawan, beberapa minggu yang lalu gw merasakan titik itu muncul tapi ga ada sedikit pun keinginan gw untuk mengontrolnya. Semua gw biarin berjalan tanpa campur tangan gw yang seharusnya sangat dibutuhkan pada saat itu. I dunno exactly why I acted like that, I... I'm just bored.
Kembali ke F.G. Winarno dan bumbu kacang, ternyata titik kritis ini ga cuma satu. Makanya tadi di definisi disebut "titik-titik kritis". Begitu pula dengan gw, titik kritis gw ga cuma satu. Di samping masalah kerjaan yang banyak banget, kehidupan pribadi (yang memang agak tertelantarkan) gw juga mulai bikin ulah. Aih, bikin ulah. Jelaslah di sini yang bikin ulah udah pasti gw, ga mungkin hidup gw mengatur gw kan? My life, my rules kalo kata status bbm temen gw. Hahaha.
Mari kita bermain dengan analogi. Biarpun gw ga jago-jago amat dibandingkan salah seorang temen baik yang senang akan permainan kata-kata. "Namanya juga usaha" kalo katanya mah. Haha ngelantur deh. Tapi harus gw akui, teman baik gw yang satu ini memiliki pengaruh yang besar buat hidup gw akhir-akhir ini. Entah kenapa semua teori dia tentang hidup kini beneran kejadian sama gw. Persis. Bahkan sampe kebawa mimpi. Ngeri juga.
Hidup itu penuh dengan pilihan-pilihan, bukan? Persis. Kalo kata J.K. Rowling tentang Harry Potter dan Voldemort "yang satu tidak bisa hidup ketika yang lain bertahan". Pada dasarnya, memang ga semua hal bisa kita dapatkan. Selalu ada pilihan dan konsekuensi dari pilihan yang kita tentukan. Masalahnya di sini adalah ketika kita ga tau mana yang harus kita pilih. Atau kita tau namun terlalu takut untuk memilih karena ga tau apa yang menanti kita di depan. Tapi itulah hidup, saudara-saudara sekalian, ketika kita tidak pernah bisa mengubah kejelasan menjadi kepastian tanpa adanya keberanian untuk mengambil risiko. Sebagian dari diri kita mungkin ga takut dengan risiko, tapi takut pada kenyataan yang akan muncul sebagai akibat dari pengambilan risiko tadi. Dan ketika pada akhirnya kita mengambil keputusan, ya, keputusan, apa yang ada di dalam pikiran kita saat beberapa waktu kemudian kita menyadari keputusan itu salah? Menyesal? Terlambat. Waktunya membuat keputusan selanjutnya.
Keputusan selanjutnya ini yang lebih sulit lagi. Mengapa sulit? Karena pengambilan keputusan ini akan mempengaruhi keputusan awal yang telah kita buat. Bisa jadi kita terkesan ga konsisten karenanya. Di sinilah titik kritisnya, ketika suatu proses berjalan sebagaimana mestinya, hazard berkeliaran di mana-mana dan akan mempengaruhi hasil akhir dari proses ini. Kalo hazard itu berhasil dihindari, selamatlah dan sempurnalah proses itu. Kalo ga... hhmmm, lagi-lagi berujung pada risiko yang harus kita ambil.
Haruskah kita terdiam? Menunggu? Menunggu sesuatu yang kita sendiri tak tau pasti apa itu?
Haruskah saya menyesal? Menyesali keputusan yang telah saya buat sendiri untuk hidup saya?
Haruskah saya kembali... ataukah tetap menari di sini?
Haruskah saya menelaah kembali pilihan-pilihan saya?
Haruskah, haruskah, haruskah?
"Takutlah pada kenyataan, namun beranilah menghadapinya" - a friend of mine
Comments
Post a Comment
COMMENTS