Secarik Pesan
T O D A Y
I do want to talk with you, but it's forbidden, ya know. I just can write, write, and write...
Lampu kamar remang-remang, suara jangkrik bersahut-sahutan di tengah dinginnya malam. Irama kipas angin rusakku yang sangat berisik terdengar, desau pelan udaranya yang perlahan mengisi ruang hampa di kamarku. Suara batuk ibu kosan, percikan air hujan yang menetes di kala gerimis seperti ini. Gelasku yang berisi cokelat hangat sebagai penenangku, laptop yang setia merasakan sentuhan jari-jariku. Bahkan kertas praktikum yang akhir-akhir ini sangat kuhindari, melapisi bagian bawah mouse-ku agar nyaman kugunakan.
Semua, semua, semua elemen di dalam kamar ini, suasana di sekitarnya, seakan memapahku untuk menulis tentangmu. Memapah? Ya, memapah. Terlalu sulit bagiku untuk bergerak sendiri. Terlalu pincang kakiku, terlalu cacat hatiku untuk meneruskan apa yang harus kulakukan. Ada sesuatu yang melukainya di dalam, sesuatu yang memaksaku untuk melakukan apa yang disebut dengan pengorbanan.
Orang-orang menonton televisi, terpaku pada layar kaca di depan mereka menyaksikan Indonesia-Thailand. Aku di sini, menulis tentangku. Orang-orang sibuk mengoceh di Blackberry Groups, sibuk dengan urusan sosial mereka. Aku terduduk di sini, menulis tentangmu. Timeline twitter penuh dengan komentar tentang pertandingan malam ini, mendukung apa yang seharusnya mereka dukung. Aku teperangkap di sini, menulis tentang kita.
Kulemaskan jari-jariku, kucoba cairkan hatiku. Ada sesuatu yang panas membara di dadaku, namun sudah terbiasa kuacuhkan. Bagiku, amarah ini tak boleh meledak pada orang yang salah. Sahabatku, teman terbaikku, mungkin sedang tak bisa mendengarkan keluh kesahku. Tak apa, akan kutunggu hingga dia menelepon dan mengabariku jika dia telah selesai dengan urusannya nanti. Yang perlu kulakukan sekarang hanyalah menulis. Menuangkan segenap perasaan ke dalam literatur yang tak menjanjikan ini.
Aku tak pernah mengenal orang yang begitu mementingkan diri mereka sendiri. Aku, egois? Ya. Pada dasarnya seperti itu. Namun ada hal-hal yang tak sepatutnya dikatakan, hal-hal yang seharusnya disimpan sendiri tanpa harus dipaksakan demi terpenuhinya ego. Apakah dengan memaksa orang lain membuat diri kita puas? Ya, mungkin. Tapi pernahkah berpikir, apa sebenarnya yang dipikirkan saat memaksakan kehendak kepada orang lain? Pernahkah berpikir kalau yang dituntut adalah sebuah pengorbanan? Egois, ya, egois, jika memaksakan kehendak seperti itu. Dan itu membuat dia jauh lebih egois daripada aku.
Reputasi. Hubungan. Semua itu bisa hancur, ya, kan? Dan apa yang menyebabkan kehancuran itu? Tentunya si pelaku kehancuran. Bisa aku, bisa kamu, bisa dia. Bisa egoku, bisa egomu, bisa egonya. Namun semua itu risiko, bukan? Aku tahu sejak awal, apa yang kuhadapi. Apa yang sedang kujalani, apa yang sedang kucoba untuk bangun. Aku tahu siapa aku. Aku tahu siapa kamu. Aku tahu siapa dia. Dan aku tahu siapa mereka. Semua itu cukup bagiku untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Namun apa yang dia lakukan malam ini membuatku tak berkutik. Aku takut, kamu tahu? Takut, takut sekali. Aku tahu seharusnya takut itu hilang ketika pemicu takut hilang. Tapi ketakutan itu justru bertambah dan memunculkan paranoia. Memunculkan pikiran-pikiran tak wajar yang kamu pun pasti takkan pernah membayangkannya. Aku takut, takut, takut.
Ketakutan itu sirna, bertransformasi menjadi amarah saat kehendak yang dipaksakan itu berhasil menguasaiku. Aku telah kalah, kamu tahu? Aku kalah, aku kalah, aku, kalah. Kalah untuk terus menjalani apa yang sudah dijalani. Kalah untuk meneruskan langkah-langkah selanjutnya di jalanan yang terbentang di hadapanku. Kalah dan harus mundur ke titik awal, ke ketiadaan yang pada awalnya telah kuniatkan untuk diisi. Aku marah, sangat marah, marah dan bersumpah serapah. Apakah sumpah tajamku didengar oleh malaikat, entahlah. Apakah orang yang membuatku begitu marah akan merasakan efek kegusaranku, entahlah. Yang jelas aku marah.
Kemarahan berubah lagi menjadi kesedihan. Setelah menulis kata-kata yang begitu kasar (yang tidak akan pernah ku-publish di sanctuary ini), marah itu menjadi lelah. Lelah untuk menyalahkan, letih untuk mempermasalahkan. Letih? Ya, sangat letih. Belum pernah aku menulis dengan emosi menggelegak seperti ini. Kini aku sedih. Jikalau kamu melihatku bermuram durja nanti, jikalau kamu melihat aku tersenyum paksa. Jikalau kamu melihat miris yang tersirat di muka. Jikalau aku tak lagi membalas apa yang kamu beri. Jikalau nanti acuhku tertangkap olehmu. Itu semua karena kesedihanku, kesedihan yang lahir karena matinya egoku.
Lampuku masih remang-remang, jangkrik masih bersahut-sahutan, kipas angin rusakku masih menyala. Mengiringiku menulis secarik pesan untukmu.
Ada satu lagi bunyi yang ikut sebagai pengiringku…
Nada handphone-ku yang terus-menerus berbunyi, menandakan adanya pesan.
Mungkin itu kamu. Dan kuharap setelah kamu membaca tulisan jelek ini, kamu mengerti mengapa aku membiarkan handphone-ku berbunyi tanpa berusaha meraihnya.
“It’s hard to promise something you know might hurt yourself, but it’s even harder if you know it’s everything you never want.”
I do want to talk with you, but it's forbidden, ya know. I just can write, write, and write...
Lampu kamar remang-remang, suara jangkrik bersahut-sahutan di tengah dinginnya malam. Irama kipas angin rusakku yang sangat berisik terdengar, desau pelan udaranya yang perlahan mengisi ruang hampa di kamarku. Suara batuk ibu kosan, percikan air hujan yang menetes di kala gerimis seperti ini. Gelasku yang berisi cokelat hangat sebagai penenangku, laptop yang setia merasakan sentuhan jari-jariku. Bahkan kertas praktikum yang akhir-akhir ini sangat kuhindari, melapisi bagian bawah mouse-ku agar nyaman kugunakan.
Semua, semua, semua elemen di dalam kamar ini, suasana di sekitarnya, seakan memapahku untuk menulis tentangmu. Memapah? Ya, memapah. Terlalu sulit bagiku untuk bergerak sendiri. Terlalu pincang kakiku, terlalu cacat hatiku untuk meneruskan apa yang harus kulakukan. Ada sesuatu yang melukainya di dalam, sesuatu yang memaksaku untuk melakukan apa yang disebut dengan pengorbanan.
Orang-orang menonton televisi, terpaku pada layar kaca di depan mereka menyaksikan Indonesia-Thailand. Aku di sini, menulis tentangku. Orang-orang sibuk mengoceh di Blackberry Groups, sibuk dengan urusan sosial mereka. Aku terduduk di sini, menulis tentangmu. Timeline twitter penuh dengan komentar tentang pertandingan malam ini, mendukung apa yang seharusnya mereka dukung. Aku teperangkap di sini, menulis tentang kita.
Kulemaskan jari-jariku, kucoba cairkan hatiku. Ada sesuatu yang panas membara di dadaku, namun sudah terbiasa kuacuhkan. Bagiku, amarah ini tak boleh meledak pada orang yang salah. Sahabatku, teman terbaikku, mungkin sedang tak bisa mendengarkan keluh kesahku. Tak apa, akan kutunggu hingga dia menelepon dan mengabariku jika dia telah selesai dengan urusannya nanti. Yang perlu kulakukan sekarang hanyalah menulis. Menuangkan segenap perasaan ke dalam literatur yang tak menjanjikan ini.
Aku tak pernah mengenal orang yang begitu mementingkan diri mereka sendiri. Aku, egois? Ya. Pada dasarnya seperti itu. Namun ada hal-hal yang tak sepatutnya dikatakan, hal-hal yang seharusnya disimpan sendiri tanpa harus dipaksakan demi terpenuhinya ego. Apakah dengan memaksa orang lain membuat diri kita puas? Ya, mungkin. Tapi pernahkah berpikir, apa sebenarnya yang dipikirkan saat memaksakan kehendak kepada orang lain? Pernahkah berpikir kalau yang dituntut adalah sebuah pengorbanan? Egois, ya, egois, jika memaksakan kehendak seperti itu. Dan itu membuat dia jauh lebih egois daripada aku.
Reputasi. Hubungan. Semua itu bisa hancur, ya, kan? Dan apa yang menyebabkan kehancuran itu? Tentunya si pelaku kehancuran. Bisa aku, bisa kamu, bisa dia. Bisa egoku, bisa egomu, bisa egonya. Namun semua itu risiko, bukan? Aku tahu sejak awal, apa yang kuhadapi. Apa yang sedang kujalani, apa yang sedang kucoba untuk bangun. Aku tahu siapa aku. Aku tahu siapa kamu. Aku tahu siapa dia. Dan aku tahu siapa mereka. Semua itu cukup bagiku untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Namun apa yang dia lakukan malam ini membuatku tak berkutik. Aku takut, kamu tahu? Takut, takut sekali. Aku tahu seharusnya takut itu hilang ketika pemicu takut hilang. Tapi ketakutan itu justru bertambah dan memunculkan paranoia. Memunculkan pikiran-pikiran tak wajar yang kamu pun pasti takkan pernah membayangkannya. Aku takut, takut, takut.
Ketakutan itu sirna, bertransformasi menjadi amarah saat kehendak yang dipaksakan itu berhasil menguasaiku. Aku telah kalah, kamu tahu? Aku kalah, aku kalah, aku, kalah. Kalah untuk terus menjalani apa yang sudah dijalani. Kalah untuk meneruskan langkah-langkah selanjutnya di jalanan yang terbentang di hadapanku. Kalah dan harus mundur ke titik awal, ke ketiadaan yang pada awalnya telah kuniatkan untuk diisi. Aku marah, sangat marah, marah dan bersumpah serapah. Apakah sumpah tajamku didengar oleh malaikat, entahlah. Apakah orang yang membuatku begitu marah akan merasakan efek kegusaranku, entahlah. Yang jelas aku marah.
Kemarahan berubah lagi menjadi kesedihan. Setelah menulis kata-kata yang begitu kasar (yang tidak akan pernah ku-publish di sanctuary ini), marah itu menjadi lelah. Lelah untuk menyalahkan, letih untuk mempermasalahkan. Letih? Ya, sangat letih. Belum pernah aku menulis dengan emosi menggelegak seperti ini. Kini aku sedih. Jikalau kamu melihatku bermuram durja nanti, jikalau kamu melihat aku tersenyum paksa. Jikalau kamu melihat miris yang tersirat di muka. Jikalau aku tak lagi membalas apa yang kamu beri. Jikalau nanti acuhku tertangkap olehmu. Itu semua karena kesedihanku, kesedihan yang lahir karena matinya egoku.
Lampuku masih remang-remang, jangkrik masih bersahut-sahutan, kipas angin rusakku masih menyala. Mengiringiku menulis secarik pesan untukmu.
Ada satu lagi bunyi yang ikut sebagai pengiringku…
Nada handphone-ku yang terus-menerus berbunyi, menandakan adanya pesan.
Mungkin itu kamu. Dan kuharap setelah kamu membaca tulisan jelek ini, kamu mengerti mengapa aku membiarkan handphone-ku berbunyi tanpa berusaha meraihnya.
“It’s hard to promise something you know might hurt yourself, but it’s even harder if you know it’s everything you never want.”
Comments
Post a Comment
COMMENTS