Just the Inspiration Coming at the Bus Shelter

T O D A Y

When those inspirations come in a rush...

Sepertinya angin di sini terlalu kencang. Tertiup rambutku dan berantakan dibuatnya. Halte ini terlalu panas, padahal ramainya tidak seberapa. Kulihat langit, awan mendominasi pandanganku pertanda cepat atau lambat hujan akan turun. Hhmmm, padahal bis kuning yang kutunggu belum juga lewat.

Handphone-ku berbunyi, menandakan adanya pesan. Mungkin dari kamu. Ah, tapi apalah artinya? Memangnya kenapa kalau itu kamu? Toh aku tak bisa berbuat apa-apa.

Aku mencoba merenung, menggali dalam-dalam pikiranku. Mengeksplorasi isi kepalaku yang panas bagaikan sengatan matahari yang kurasakan di halte ini. Mereka ulang bab demi bab yang telah kulalui kemarin. Ah, rasanya seperti mimpi. Mimpi yang terlalu sebentar sehingga membuatku penasaran akan kelanjutannya saat tiba2 aku dibangunkan secara paksa.

Jadi kamu datang, kamu yang kupikir bisa mengisi hariku. Tapi kupikir ini tidak bertahan lama. Seperti angin yang bertiup terlalu kencang dan membuat rambutku berantakan, gangguan itu menghampiri dan mengacak-acak bangunan yang bahkan belum berdiri. Tega, memang. Kurasakan hatiku panas, sepanas bara api yang aku pun tak tahu dari mana asalnya. Kulihat sekelilingku, ada sedikit tanda-tanda yang mungkin akan menentangku. Ataukah itu hanya ilusi? Apakah awan yang mendominasi langit hanya ilusiku saja, karena orang-orang di halte berkata demikian? Haruskah hujan turun, padahal bis kuning yang kutunggu belum datang? Haruskah segalanya terkubur sementara rasa yang kupikir akan muncul baru hendak tumbuh?

Aku tak keberatan kalau angin memang harus bertiup kencang. Tapi jangan acak-acak rambutku. Aku tak keberatan jika memang hujan harus turun. Tapi kuharap itu terjadi setelah bis kuning datang. Setidaknya itu lebih adil untukku yang tidak membawa payung. Setidaknya aku tidak akan merasa begitu konyol.

Aku tak bisa berkata-kata. Aku benci, benci, benci.

Aku
Benci
Dipaksa

Comments