Isyarat
T O D A Y
is such another hectic day
Hmm, udah lama ga menyentuh blog ini membuat jari gw kaku. Kalo kata temen gw kaku kayak kopiah baru. Tapi gw coba membiarkan jari-jari gw menari otomatis di atas keyboard si Toshi dengan backsound Linger-nya The Cranberries. Toshi? Nama laptop gw. Hehehe. Terlalu lama ga nulis jadi terlalu banyak yang ga gw ceritain jadinya. Bb gw namanya Geisha, kedua lengan empuk gw namanya Kuku dan Gigi, pembantu gw namanya Kimpi, hmm… apa lagi coba. Ah ya, gw juga punya bahasa baru yang namanya isyarat.
Rumit banget hidup gw kayaknya kalo lo liat title posting gw akhir-akhir ini. Diam lah, Isyarat lah. Kayaknya nyaris ga ada beda. Ya setidaknya kalo isyarat masih ada tanda2 yang bisa diinterpretasikan. Beda sama diam yang total membingungkan, saudara2. Kenapa gw nulis judul isyarat? Inspirasi datang dari teman gw yang tak lain tak bukan adalah rekan kerja gw di RTC. RTC apa? Hahaha bahkan belom pernah gw certain ya. RTC itu radio komunitas kampus tempat gw join di mana gw memiliki keluarga kedua di sana. Singkat cerita, temen gw ini anak sastra Indonesia. Dan gw baru tau kalo mata kuliah sastra aneh-aneh. Masa ada mata kuliah Bahasa Isyarat coba. Sedap.
Doi ngajarin gw banyak banget bahasa isyarat mulai dari isyarat menyebutkan nama, tempat tinggal, cara mesen makanan, sampe I love you dan I hate you. Yang kedua terakhir itu kayanya yang lebih bermanfaat buat hidup gw yang ruwet ini. Biar subjek yang gw maksud langsung ngerti kali ya apa yang gw rasain. Biar gw ga ditanya2 ga jelas lagi. Yang paling penting, biar semua unek-unek gw bisa direpresentasikan dalam 1 gerakan saja.
Yang menarik dari pelajaran ini bukan cuma bahasanya aja, tapi juga dosennya yang ternyata tuna rungu semua. Cuma isyarat aja yang bisa menghubungkan mereka dengan orang lain. Cuma isyarat yang dapat melancarkan komunikasi mereka. Bukan itu aja, orang-orang tuna rungu ini pun cenderung ekspresif, ekspresif banget. Kenapa ekspresif? Ya ibarat kata orang ngomong aja pake ekspresi, masa ini yang ga bisa ngomong ga pake? Ekspresi itu harus ada dan maksimal karena mereka ga bisa bicara. Dari cerita temen gw inilah terlintas di pikiran gw untuk nulis lagi. Untuk mengambi hikmah dari orang-orang kurang beruntung tersebut yang tetap bisa menyiratkan apa yang hendak mereka sampaikan. Dan memang ga semua hal itu bisa diungkapkan dengan kata-kata. Terkadang kita gunakan sepercik isyarat untuk setetes pengertian yang lebih besar.
Namun isyarat tetap isyarat, saudara2. Seperti halnya teori hanyalah teori. Di sini ga ada yang berbicara, ga ada permainan kata-kata. Petunjuk yang kita punya cuma sebatas bahasa tubuh, gerak gerik, dan pandangan mata. Semua itu tergantung, benar2 tergantung. Tergantung apa? Tergantung bagaimana kita menerjemahkan isyarat-isyarat itu. Intinya apa? Intinya ya gantung. Udah kayak lagu The Cranberries ini, yang dari awal gw nulis sampe sekarang ga berhenti ngiringin jari-jari gw menari.
Kalo dipikir2, agaknya gw memang lebih suka mengisyaratkan sesuatu daripada harus ngomong gamblang dalam bentuk kata2. Ga seru bray. Kenapa ahli gizi ngomong ‘kamu harus punya berat badan ideal’ ketimbang ‘kamu gendut’? Kenapa Blair Waldorf ngomong ke Chuck Bass ‘3 words, 8 letters, and I’m yours’ ketimbang ‘Tell me you love me’? Kenapa polisi lalu lintas yang nilang bokap gw ngomongnya ‘mohon pengertiannya, Pak’ ketimbang ‘bayar aja pak dan semuanya beres’? Hal-hal kecil kayak gitu ga lain ga bukan adalah cara untuk mengisyaratkan sesuatu, saudara2. Kenapa harus isyarat? Karena lebih sopan. Ya, sopan! Sama halnya dengan ‘maaf ya, gw udah ada acara’ ketimbang ‘sorry, gw males pergi sama lo’. Sebenarnya gerak-gerik kita pun berbahasa. Tatapan mata kita yang ga pernah bohong merupakan isyarat paling ampuh dari segala isyarat.
Jikalau bahasa tubuh telah berbicara. Jikalau gerak-gerik singkat dapat terpeta. Jikalau tatapan mata yang beradu telah berisyarat. Haruskah diungkapkan kembali apa yang tersirat itu dengan bahasa? Haruskah ada intervensi untuk bibir ini berucap? Haruskah verbal ini berutara?
Biarkan, biarkan saja semua mengalir. Bila memang harus mengalir, tersendat, bahkan mungkin terlunta. Tidak semua hal mesti dipertanyakan. Tidak semua tanya memiliki jawaban. Karena setiap saat, setiap waktu, setiap langkah yang kita lalui selalu mengundang pertanyaan. Dan pada akhirnya jawaban yang datang pun takkan pernah sempurna. Selalu memicu keingintahuan baru yang menimbulkan pertanyaan baru pula.
Apa yang membuat kita tidak puas dengan jawaban yang ada? Karena mungkin jawaban itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Karena mungkin kita telah mempunyai jawaban sendiri. Atau mungkin memang belum waktunya kita mendengar jawaban itu.
Ketika apa yang bisa kita cetuskan hanyalah sebuah isyarat… jadikanlah isyarat itu sebagai jawaban.
is such another hectic day
Hmm, udah lama ga menyentuh blog ini membuat jari gw kaku. Kalo kata temen gw kaku kayak kopiah baru. Tapi gw coba membiarkan jari-jari gw menari otomatis di atas keyboard si Toshi dengan backsound Linger-nya The Cranberries. Toshi? Nama laptop gw. Hehehe. Terlalu lama ga nulis jadi terlalu banyak yang ga gw ceritain jadinya. Bb gw namanya Geisha, kedua lengan empuk gw namanya Kuku dan Gigi, pembantu gw namanya Kimpi, hmm… apa lagi coba. Ah ya, gw juga punya bahasa baru yang namanya isyarat.
Rumit banget hidup gw kayaknya kalo lo liat title posting gw akhir-akhir ini. Diam lah, Isyarat lah. Kayaknya nyaris ga ada beda. Ya setidaknya kalo isyarat masih ada tanda2 yang bisa diinterpretasikan. Beda sama diam yang total membingungkan, saudara2. Kenapa gw nulis judul isyarat? Inspirasi datang dari teman gw yang tak lain tak bukan adalah rekan kerja gw di RTC. RTC apa? Hahaha bahkan belom pernah gw certain ya. RTC itu radio komunitas kampus tempat gw join di mana gw memiliki keluarga kedua di sana. Singkat cerita, temen gw ini anak sastra Indonesia. Dan gw baru tau kalo mata kuliah sastra aneh-aneh. Masa ada mata kuliah Bahasa Isyarat coba. Sedap.
Doi ngajarin gw banyak banget bahasa isyarat mulai dari isyarat menyebutkan nama, tempat tinggal, cara mesen makanan, sampe I love you dan I hate you. Yang kedua terakhir itu kayanya yang lebih bermanfaat buat hidup gw yang ruwet ini. Biar subjek yang gw maksud langsung ngerti kali ya apa yang gw rasain. Biar gw ga ditanya2 ga jelas lagi. Yang paling penting, biar semua unek-unek gw bisa direpresentasikan dalam 1 gerakan saja.
Yang menarik dari pelajaran ini bukan cuma bahasanya aja, tapi juga dosennya yang ternyata tuna rungu semua. Cuma isyarat aja yang bisa menghubungkan mereka dengan orang lain. Cuma isyarat yang dapat melancarkan komunikasi mereka. Bukan itu aja, orang-orang tuna rungu ini pun cenderung ekspresif, ekspresif banget. Kenapa ekspresif? Ya ibarat kata orang ngomong aja pake ekspresi, masa ini yang ga bisa ngomong ga pake? Ekspresi itu harus ada dan maksimal karena mereka ga bisa bicara. Dari cerita temen gw inilah terlintas di pikiran gw untuk nulis lagi. Untuk mengambi hikmah dari orang-orang kurang beruntung tersebut yang tetap bisa menyiratkan apa yang hendak mereka sampaikan. Dan memang ga semua hal itu bisa diungkapkan dengan kata-kata. Terkadang kita gunakan sepercik isyarat untuk setetes pengertian yang lebih besar.
Namun isyarat tetap isyarat, saudara2. Seperti halnya teori hanyalah teori. Di sini ga ada yang berbicara, ga ada permainan kata-kata. Petunjuk yang kita punya cuma sebatas bahasa tubuh, gerak gerik, dan pandangan mata. Semua itu tergantung, benar2 tergantung. Tergantung apa? Tergantung bagaimana kita menerjemahkan isyarat-isyarat itu. Intinya apa? Intinya ya gantung. Udah kayak lagu The Cranberries ini, yang dari awal gw nulis sampe sekarang ga berhenti ngiringin jari-jari gw menari.
Kalo dipikir2, agaknya gw memang lebih suka mengisyaratkan sesuatu daripada harus ngomong gamblang dalam bentuk kata2. Ga seru bray. Kenapa ahli gizi ngomong ‘kamu harus punya berat badan ideal’ ketimbang ‘kamu gendut’? Kenapa Blair Waldorf ngomong ke Chuck Bass ‘3 words, 8 letters, and I’m yours’ ketimbang ‘Tell me you love me’? Kenapa polisi lalu lintas yang nilang bokap gw ngomongnya ‘mohon pengertiannya, Pak’ ketimbang ‘bayar aja pak dan semuanya beres’? Hal-hal kecil kayak gitu ga lain ga bukan adalah cara untuk mengisyaratkan sesuatu, saudara2. Kenapa harus isyarat? Karena lebih sopan. Ya, sopan! Sama halnya dengan ‘maaf ya, gw udah ada acara’ ketimbang ‘sorry, gw males pergi sama lo’. Sebenarnya gerak-gerik kita pun berbahasa. Tatapan mata kita yang ga pernah bohong merupakan isyarat paling ampuh dari segala isyarat.
Jikalau bahasa tubuh telah berbicara. Jikalau gerak-gerik singkat dapat terpeta. Jikalau tatapan mata yang beradu telah berisyarat. Haruskah diungkapkan kembali apa yang tersirat itu dengan bahasa? Haruskah ada intervensi untuk bibir ini berucap? Haruskah verbal ini berutara?
Biarkan, biarkan saja semua mengalir. Bila memang harus mengalir, tersendat, bahkan mungkin terlunta. Tidak semua hal mesti dipertanyakan. Tidak semua tanya memiliki jawaban. Karena setiap saat, setiap waktu, setiap langkah yang kita lalui selalu mengundang pertanyaan. Dan pada akhirnya jawaban yang datang pun takkan pernah sempurna. Selalu memicu keingintahuan baru yang menimbulkan pertanyaan baru pula.
Apa yang membuat kita tidak puas dengan jawaban yang ada? Karena mungkin jawaban itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Karena mungkin kita telah mempunyai jawaban sendiri. Atau mungkin memang belum waktunya kita mendengar jawaban itu.
Ketika apa yang bisa kita cetuskan hanyalah sebuah isyarat… jadikanlah isyarat itu sebagai jawaban.
Comments
Post a Comment
COMMENTS