Diam
T O D A Y
Banyak yang bisa terjadi dalam diam. Dalam temaram yang kelam tanpa teredam. Sejuta emosi bicara lantang dalam diam.
Kita bisa diam, menatap lurus ke depan, melangkahkan kaki dengan ringan, memasang wajah angkuh tak pedulian. Namun kita sama2 tahu, kita hanya menahan perasaan yang berkecamuk di dalam.
Ketika angin mengiringi perjalanan kita dan air membasuh semua kekakuan aura kita. Ketika dedaunan membisikkan rayuan dan kita menepisnya. Ketika jalanan yang terbentang di hadapan kita harus diseberangi. Tak ada satu pun elemen bumi yang dapat memecah kesunyian di antara kita.
Kehampaan itu berlanjut, terus berlanjut dengan statis hingga kita mencapai tujuan kita. Kita pun berpisah, hanya dengan anggukan kepala tanpa senyuman. Kita sama-sama tahu, namun kita sama-sama tidak mau tahu. Tercetus pikiran untuk berbalik dan berteriak. Hanya sedetik dan kemudian pikiran itu hilang. Hilang terbawa pekatnya malam.
Saya terduduk. Saya terpekur. Saya terdiam. Saya tidak tahu apakah kamu terduduk. Apakah kamu terpekur. Apakah kamu terdiam.
Sungguh saya tak tahu apa-apa. Namun saya tidak mau bicara. Hanya pada saat seperti ini saya menganggap diam itu emas. Saya lelah memulai, saya terlalu letih untuk mempertanyakan.
Esoknya tak jauh berbeda dengan hari kemarin. Bahkan hitam itu semakin pekat, semakin padat mengisi ruang di antara kita. Diam itu bertahan, berjalan di tempat tanpa melangkah lebih jauh. Namun sekali lagi, diam menyimpan beribu makna. Diam menyuarakan jeritan hati yang merana. Diam itu berekspresi. Diam itu memberi tahu lebih banyak dari yang seharusnya kita tahu.
Karena dalam diam kita menebak-nebak.
Karena dalam diam kita berasumsi.
Dalam diam diam kita bercerita.
Dalam diam kita tahu.
Banyak yang bisa terjadi dalam diam. Dalam temaram yang kelam tanpa teredam. Sejuta emosi bicara lantang dalam diam.
Kita bisa diam, menatap lurus ke depan, melangkahkan kaki dengan ringan, memasang wajah angkuh tak pedulian. Namun kita sama2 tahu, kita hanya menahan perasaan yang berkecamuk di dalam.
Ketika angin mengiringi perjalanan kita dan air membasuh semua kekakuan aura kita. Ketika dedaunan membisikkan rayuan dan kita menepisnya. Ketika jalanan yang terbentang di hadapan kita harus diseberangi. Tak ada satu pun elemen bumi yang dapat memecah kesunyian di antara kita.
Kehampaan itu berlanjut, terus berlanjut dengan statis hingga kita mencapai tujuan kita. Kita pun berpisah, hanya dengan anggukan kepala tanpa senyuman. Kita sama-sama tahu, namun kita sama-sama tidak mau tahu. Tercetus pikiran untuk berbalik dan berteriak. Hanya sedetik dan kemudian pikiran itu hilang. Hilang terbawa pekatnya malam.
Saya terduduk. Saya terpekur. Saya terdiam. Saya tidak tahu apakah kamu terduduk. Apakah kamu terpekur. Apakah kamu terdiam.
Sungguh saya tak tahu apa-apa. Namun saya tidak mau bicara. Hanya pada saat seperti ini saya menganggap diam itu emas. Saya lelah memulai, saya terlalu letih untuk mempertanyakan.
Esoknya tak jauh berbeda dengan hari kemarin. Bahkan hitam itu semakin pekat, semakin padat mengisi ruang di antara kita. Diam itu bertahan, berjalan di tempat tanpa melangkah lebih jauh. Namun sekali lagi, diam menyimpan beribu makna. Diam menyuarakan jeritan hati yang merana. Diam itu berekspresi. Diam itu memberi tahu lebih banyak dari yang seharusnya kita tahu.
Karena dalam diam kita menebak-nebak.
Karena dalam diam kita berasumsi.
Dalam diam diam kita bercerita.
Dalam diam kita tahu.
Comments
Post a Comment
COMMENTS