Such An Idiot Writer

T O D A Y

......................
Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag I'm not gonna move
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying if you see this girl can you tell her where I am

Some try to hand me money, they don't understand
I'm not broke, I'm just a broken hearted man
I know it makes no sense, what else can I do
How can I move on when I'm still in love with you

Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you see me waiting for you on the corner of the street

So I'm not moving
I'm not moving
(The Script-The Man who Can't be Moved)

Saya pernah bilang kalau saya sangat menghargai karya orang lain. Sebuah seni yang menginterpretasikan kehidupan yang sebenarnya. Bukan masalah apakah itu analogi, sebab-akibat, ataupun pernyataan polos yang mengungkapkan apa yang dirasa. Seni yang betul-betul jujur dan apa adanya, bagi saya sudah cukup untuk mengetuk hati yang tertutup karena, mungkin, entahlah.. Tak pernah ada yang tahu, bukan, bagaimana hati seseorang bisa tertutup? Bahkan mungkin kita tak pernah tahu bahwa kita telah menutup hati kita. Yang kita tahu hanyalah kita tak mampu berpindah ke mana-mana. We're not moving, we just stick to one..whatever.

Move on. Kalau kata The Script "how can I move on when I'm still in love with you,". Tak ada satu pun manusia normal yang masih bernapas bisa menyangkal pernyataan yang menurut saya begitu sakral ini. Berlebihan, ya, saya berlebihan. Terserah. Sudah berulang kali tertulis dari tangan saya kata-kata tak pasti seperti "entahlah", "whatever", atau "terserah" padahal tiga paragraf pun belum ada. Kreativitas saya rasanya sudah menguap jauh sebelum saya kembali menulis sanctuary ini. Sanctuary di mana saya bisa bersembunyi sejenak dari kenyataan dan membeberkan segala perasaan yang ada. Sanctuary tempat saya mengadu walaupun tak pernah ada tanggapan yang setidaknya menenangkan hati saya. Mungkin memang itu yang saya butuhkan untuk obat hati saya..hanya ketenangan. Gundah dalam kebisuan, galau dalam kesendirian nampaknya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi saya. Saya hanya ingin sendiri, tidakkah ada yang mengerti? Sen-di-ri.

Saya suka melantur. Saya suka menulis. Saya senang menuliskan perasaan saya sehingga saya melantur ke mana-mana. Tak apa, mungkin memang segala lanturan representatif ini yang saya butuhkan. Mungkin lanturan ini lebih indah daripada kenyataan.

Saya suka bermain, tapi saya tak pernah main-main. Entah siapa yang pernah mengucapkan kata-kata ini kepada saya. Tercetus tawa kecil dari bibir saya bahkan saat saya menuliskan ini, bukan karena komposisi kata-katanya ataupun irama bicara dalam mengucap kata-kata ini, tetapi lebih karena unsur kebenaran dalam satu kalimat yang menggelikan ini. Menggelikan dalam arti lucu, mungkin. Namun itu benar adanya..main-main sungguh kekanak-kanakan. Tanpa main-main pun saya sudah sulit menjadi dewasa, bagaimana mungkin saya bermain lebih jauh? Dalam benak saya, saya hanyalah anak-anak.

Menunggu. "I'm not moving", sungguh suatu paradoks jika saya mengatakan untaian kata ini merefleksikan suatu kecelakaan tragis dalam fase kehidupan. Tragis, memang, dan kata-kata klise yang biasanya saya lontarkan seperti "life must go on" kini bahkan tak mampu terucap dari bibir saya. Hidup saya berlanjut..dengan..menunggu. Menunggu, menunggu, menunggu. Suatu pekerjaan yang asing bagi saya dan ketika saya mengalaminya, sungguh saya merasa tak berarti apa-apa.

Saya memiliki sedikit teori sok tahu tentang menunggu. Filofosi gila yang saya simpulkan sendiri, itulah yang saya suka. Tapi coba resapi, dan saya yakin kamu pun akan membenarkan filosofi ini. Menunggu adalah pilihan. Saya tidak bisa memaksa ataupun menolak seseorang untuk menunggu. Saya bukan pihak yang pantas untuk meminta siapa pun untuk menunggu. Jangan membuat saya mengambil keputusan, karena, bagaimana pun saya tak pernah tahu apa yang akan saya rasakan, apa yang akan berubah (atau mungkin takkan berubah?), dan apa yang akan terjadi. Saya bukan siapa-siapa..you're the only one who have the right to decide your destiny.

Saya kejam, saya bodoh, saya lugu, saya gila. Keadaan memaksa saya untuk kejam. Irasionalitas memancing saya untuk bodoh. Kepura-puraan menjadikan saya lugu. Dan abnormalitas di sekitar saya membuat saya gila.

Entah apa yang saya tulis ini, jangan tanya saya, saya hanya mengeluarkan apa yang saya rasa dan saya pikir. Terkadang ada hal-hal yang tidak perlu diketahu. Dan begitu banyak hal yang terlalu sulit untuk dimengerti.

It's a big mistake when I ask to be waited..and it's a weakness of me when I decide to spend the rest of my life by waiting..I'm an idiot.

Comments