When Painful Goes Painless
T O D A Y
is the day I (probably) can share this feeling inside
It is so easy to see
Dysfunction between you and me
We must free up these tired souls
Before the sadness gets us both
I tried and tried to let you know
I love you but I'm letting go
It may not last but I don't know
Just don't know
...................................................................................
Everyday, with every word whispered
We get more far away
The distance between us makes it so hard to stay
But nothing lasts forever but be honest, babe
It hurts but it may be the only way
....................................................................................
But we have not hit the ground
Doesn't mean we're not still falling......................
Sakit. Satu kata. Lima huruf. Dua suku kata. Satu makna yang bahkan saat saya merasakannya, saya tak bisa mengungkapkannya. Sakit. Seperti ada lubang besar di dada saya ketika saya menyadari ada sesuatu yang hilang, yang telah direnggut dari kehidupan saya. Sakit. Bahkan saat ini, saat saya menuliskannya, saya tidak tahu benar apa artinya itu. Saya hanya tahu rasanya...dulu. Sekarang...entahlah. Mungkin saya sudah tidak bisa merasakan sakit lagi. Bagaimana mungkin saya sakit namun tak bisa merasakannya, saya pun tidak tahu. Saya tidak bisa dipaksa untuk tahu...untuk menerjemahkan apa itu sakit. Saya hanya bisa tersenyum miris. Tersenyum? Ya, mungkin saya sudah gila. Saya tidak tahu.
Pernah dengar pepatah 'alah bisa karena biasa'? Mungkin sekarang saya sedikit percaya akan pepatah itu. Mungkin saya bisa merangkai kata-kata baru; 'tak bisa merasakan sakit karena telah terbiasa'? Entah apa yang saya tulis ini. Biasanya saya sangat suka menuangkan perasaan saya dalam bentuk tulisan. Namun sekarang saya merasa seperti tak suka apa-apa. Saya tak suka makan. Sudah dua minggu saya tidak merasakan enaknya makanan di malam hari. Namun saya sehat, hanya kehilangan nafsu. Saya tak suka tertawa. Hanya bisa tertawa jika saya berada di antara teman-teman saya. Tidak suka, tidak suka, tidak suka apa-apa. Saya tidak merasakan apa pun.
Pernah dengar kata 'zombie'? Atau menonton film Zombie? Makhluk yang tidak punya perasaan, yang bergerak tak pasti ke arah yang tak jelas. Saya zombie. Saya zombie yang tak bisa merasakan apa-apa, yang berjalan tanpa tahu harus ke mana. Saya tidak tahu mengapa saat muncul kata-kata yang (seharusnya) menyakiti hati saya tidak memberikan efek apa pun pada saya. Bahkan saya tak bisa menolak. Ada bagian dari hati kecil saya yang bersuara, "Mungkin memang sudah waktunya."
Mungkin memang sudah waktunya. Mungkin memang ini yang terbaik. Palsu! Memang hanya kata-kata kosong yang penuh kepalsuan! Tidak ada sesuatu yang 'sudah sampai waktunya' ataupun 'terbaik untuk kita'! Setidaknya saya percaya itu hingga datang malam itu, seminggu yang lalu, di saat saya menyerah dengan segala ketidakberdayaan yang saya miliki. Ketika saya hanya bisa memandang kosong dinding kamar tempat saya menggantungkan lukisan favorit saya. Ketika saya mencoba menarik nafas dalam sebagai kompensasi tubuh saya yang tak mau menerima kenyataan. Saya tak mau percaya ini adalah akhir. Terlalu sulit. Terlalu sakit, andai saja saya bisa merasakannya.
Pernah dengar kata 'nelangsa'? Bahkan saya tidak menyadarinya. Namun teman-teman saya lebih peka. Bahkan mereka bisa melihat kenelangsaan itu terpancar dari aura saya. Saya tidak tahu. Bisakah saya beralasan saya tidak tahu? Karena saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak tahu apa yang saya rasakan, apa yang terjadi pada sel-sel tubuh saya, apa yang seharusnya saya lakukan, sejak seminggu yang lalu. Hanya seminggu. Baru seminggu. Tidak bisakah saya beralasan ini hanya masalah waktu? Tidak bisakah?
Ketika sakit itu tak lagi bisa dirasakan...ketika segalanya hambar dan tak tergambar...mungkin inilah arti keterpurukan yang sebenarnya. Arti sakit yang sebenarnya.
"Sakit adalah sesuatu yang menyakitimu begitu dalam sehingga kamu tak bisa lagi merasakannya."
Bagi saya, itulah definisi sakit.

is the day I (probably) can share this feeling inside
It is so easy to see
Dysfunction between you and me
We must free up these tired souls
Before the sadness gets us both
I tried and tried to let you know
I love you but I'm letting go
It may not last but I don't know
Just don't know
...................................................................................
Everyday, with every word whispered
We get more far away
The distance between us makes it so hard to stay
But nothing lasts forever but be honest, babe
It hurts but it may be the only way
....................................................................................
But we have not hit the ground
Doesn't mean we're not still falling......................
Sakit. Satu kata. Lima huruf. Dua suku kata. Satu makna yang bahkan saat saya merasakannya, saya tak bisa mengungkapkannya. Sakit. Seperti ada lubang besar di dada saya ketika saya menyadari ada sesuatu yang hilang, yang telah direnggut dari kehidupan saya. Sakit. Bahkan saat ini, saat saya menuliskannya, saya tidak tahu benar apa artinya itu. Saya hanya tahu rasanya...dulu. Sekarang...entahlah. Mungkin saya sudah tidak bisa merasakan sakit lagi. Bagaimana mungkin saya sakit namun tak bisa merasakannya, saya pun tidak tahu. Saya tidak bisa dipaksa untuk tahu...untuk menerjemahkan apa itu sakit. Saya hanya bisa tersenyum miris. Tersenyum? Ya, mungkin saya sudah gila. Saya tidak tahu.
Pernah dengar pepatah 'alah bisa karena biasa'? Mungkin sekarang saya sedikit percaya akan pepatah itu. Mungkin saya bisa merangkai kata-kata baru; 'tak bisa merasakan sakit karena telah terbiasa'? Entah apa yang saya tulis ini. Biasanya saya sangat suka menuangkan perasaan saya dalam bentuk tulisan. Namun sekarang saya merasa seperti tak suka apa-apa. Saya tak suka makan. Sudah dua minggu saya tidak merasakan enaknya makanan di malam hari. Namun saya sehat, hanya kehilangan nafsu. Saya tak suka tertawa. Hanya bisa tertawa jika saya berada di antara teman-teman saya. Tidak suka, tidak suka, tidak suka apa-apa. Saya tidak merasakan apa pun.
Pernah dengar kata 'zombie'? Atau menonton film Zombie? Makhluk yang tidak punya perasaan, yang bergerak tak pasti ke arah yang tak jelas. Saya zombie. Saya zombie yang tak bisa merasakan apa-apa, yang berjalan tanpa tahu harus ke mana. Saya tidak tahu mengapa saat muncul kata-kata yang (seharusnya) menyakiti hati saya tidak memberikan efek apa pun pada saya. Bahkan saya tak bisa menolak. Ada bagian dari hati kecil saya yang bersuara, "Mungkin memang sudah waktunya."
Mungkin memang sudah waktunya. Mungkin memang ini yang terbaik. Palsu! Memang hanya kata-kata kosong yang penuh kepalsuan! Tidak ada sesuatu yang 'sudah sampai waktunya' ataupun 'terbaik untuk kita'! Setidaknya saya percaya itu hingga datang malam itu, seminggu yang lalu, di saat saya menyerah dengan segala ketidakberdayaan yang saya miliki. Ketika saya hanya bisa memandang kosong dinding kamar tempat saya menggantungkan lukisan favorit saya. Ketika saya mencoba menarik nafas dalam sebagai kompensasi tubuh saya yang tak mau menerima kenyataan. Saya tak mau percaya ini adalah akhir. Terlalu sulit. Terlalu sakit, andai saja saya bisa merasakannya.
Pernah dengar kata 'nelangsa'? Bahkan saya tidak menyadarinya. Namun teman-teman saya lebih peka. Bahkan mereka bisa melihat kenelangsaan itu terpancar dari aura saya. Saya tidak tahu. Bisakah saya beralasan saya tidak tahu? Karena saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak tahu apa yang saya rasakan, apa yang terjadi pada sel-sel tubuh saya, apa yang seharusnya saya lakukan, sejak seminggu yang lalu. Hanya seminggu. Baru seminggu. Tidak bisakah saya beralasan ini hanya masalah waktu? Tidak bisakah?
Ketika sakit itu tak lagi bisa dirasakan...ketika segalanya hambar dan tak tergambar...mungkin inilah arti keterpurukan yang sebenarnya. Arti sakit yang sebenarnya.
"Sakit adalah sesuatu yang menyakitimu begitu dalam sehingga kamu tak bisa lagi merasakannya."
Bagi saya, itulah definisi sakit.

I know how the empty bokshelf feels, standing up in an empty chamber
Just like my empty heart, lying in my empty body
It's called painful
Just like my empty heart, lying in my empty body
It's called painful
DindaDonkey
Comments
Post a Comment
COMMENTS