Gorgeous Prom Dress

T O D A Y

Warnanya biru gelap memesona, berbahan satin berlapis chiffon. Satinnya biru mengilat, membuat saya jatuh cinta sejak pertama kali menyentuhnya. Dia begitu merasuki pikiran saya, membuat saya memutar otak, mencari-cari pasangan yang tepat untuknya. Kemudian saya ingat akan chiffon. Ya, chiffon. Pas sekali.. dan begitu saya melihat chiffon biru donker itu dari jarak sekitar setengah meter di hadapan saya, hati saya pun berbisik, "Ya, ini dia!"

Saya sudah tau persis model apa yang akan saya kenakan. Saya sendiri tidak tahu namanya, yang jelas potongannya pendek di depan, lalu menjuntai ke belakang. Agak mirip dengan sirip ikan duyung. Saya ingat, saya sampai harus membeli bahannya sepanjang lima meter. Ya, lima. DIA terseret di belakang kaki saya, terkadang terinjak (walaupun saya telah mengenakan sepatu hak tinggi saya), tetapi saya merasa menjadi wanita paling cantik saat mengenakannya. Dan, oh, saya hampir lupa menceritakan payetnya. DIA persis seperti yang saya impikan, berpayet perak mengilat menebarkan aksen spektrum pelangi. Payet itu melingkar di bagian leher dan di bawah dada. Pas sekali dengan badan saya.. dapat dipastikan tak ada orang lain yang bisa mengenakannya selain saya.

Namun, masalahnya, teman-teman, DIA telah dikenakan oleh orang lain malam ini. Kakak saya. Demi apapun di dunia ini, saya bukannya tidak rela DIA dikenakan oleh kakak saya. Saya dan kakak saya sudah sangat terbiasa saling bertukar pakaian, namun kali ini seperti ada yang menyesakkan dada saya. Bukan masalah satinnya. Bukan masalah chiffon ataupun payet peraknya. Bukan masalah potongannya yang sangat saya puja. Ini adalah masalah momen saat saya mengenakannya.

DIA adalah gaun prom saya. Gaun yang saya kenakan pada tanggal 10 Juli 2009 di ballroom The Ritz-Carlton Mega Kuningan, seminggu sebelum hotel itu hancur berantakan oleh bom bunuh diri. DIA adalah gaun yang membuat saya mematut-matut diri di depan cermin selama nyaris satu setengah jam karena saya ingin memastikan DIA memang tercipta untuk saya. DIA adalah alasan mengapa saya membolak-balik majalah ELLE dan majalah-majalah fashion lainnya setiap hari selama minimal satu jam. DIA adalah apa yang saya kenakan selama hampir delapan jam malam itu, menemani saya bercengkerama dengan teman-teman tercinta yang saya rindukan setiap hari hingga saat ini.

Inilah yang saya ingat ketika saya melihat DIA:

MOMEN SATU,
Ketika saya duduk tenang dan dengan sabar menunggu make-up artist yang kami sewa selesai mendandani saya. Latar belakang: living room salah satu kamar di Arya Duta Suite, Semanggi. Riva Ambardina di samping saya, Farisa Saranadya, Nadia Tiara, Danisha Novyindra, Gini Rahmawati, Aneke Putri Kusumawati, Nieke Arista Melina, Shafira Widya Hanafiah, Paramitha Astari, dan Tasha Windawati duduk menyebar di living room tersebut, sibuk dengan kegiatan mempercantik diri mereka. Setelah saya selesai didandani, saya pun mengenakan DIA dan setiap orang memuji DIA dan berkata DIA sangat pas untuk saya.

MOMEN DUA,
Ketika pintu kamar diketuk dan muncullah Fariz Pradana yang siap menggandeng saya dan Riva Ambardina menuju mobil Andhika Pratama. Di mobil suasana sangat kaku karena memang selalu ada hawa aneh setiap Riva dan Andhika berada dalam satu area yang sama. Saya dan Fariz bertindak sebagai penyelamat suasana dengan melontarkan candaan segar agar dua orang itu dapat sedikit melunak. Pada momen ini juga mereka bertiga sependapat bahwa DIA sangat cakap menutupi lengan saya yang besar.

MOMEN TIGA,
Momen ini terjadi berulang kali; saya berkali-kali berada pada posisi terjungkal karena ekor DIA yang panjang dan menjuntai terinjak oleh teman-teman saya. Lucu sekali memang, DIA membuat saya menahan malu sekaligus tawa akibat tersandung itu.

MOMEN EMPAT,
Salah satu band yang tampil membawakan lagu "I Don't Want to Miss A Thing" dan membuat saya nyaris gila. Rasanya lagu itu hanya memperjelas kenyataan bahwa sebentar lagi kami akan berpisah.

MOMEN LIMA,
Astaga, saya mulai berkaca-kaca sekarang..ketika Runny Rudiyanti membacakan puisi untuk Interfet-Velvet sembari meneteskan air mata.

MOMEN ENAM,
Sheila on Seven naik ke panggung, otomatis kami semua berdiri, merapat, dan DIA terinjak-injak habis di situ. Panas, panas sekali. Kami para wanita melepas sepatu hak tinggi kami, mencampakkannya ke samping, turut melebur dalam kerumunan yang bernyanyi penuh semangat.

MOMEN TUJUH,
Teriakan itu berhenti. Tidak ada lagi hentakan kaki. Tidak ada lagi derai tawa yang terdengar. Yang ada hanya air mata yang diiringi lantunan Kisah Klasik untuk Masa Depan.
Yang
saya
ingat
hanyalah...................................................................
.....................................................................mereka.

Di balik DIA, tubuh saya merintih sedih sekaligus bergerak riang. Decakan kagum yang terlontar karena DIA, kecantikan mewah yang terpancar dari setiap payetnya, momen-momen tak terlupakan yang saya lalui...

DIA adalah saksi bisu salah satu malam terpenting dalam hidup saya.

Dan tebak, kakak saya telah kembali dengan DIA melekat di tubuhnya, dalam keadaan baik-baik saja. DIA menyapu lantai, membelai lembut wajah saya ketika kakak saya meletakkannya dengan hati-hati di samping saya. DIA seolah tersenyum dan berkata tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tak ada cacat sedikitpun yang mengenainya.

Saya tahu DIA akan baik-baik saja
Saya tahu DIA akan kembali kepada saya

My prom dress, my one-night dress
The dumb witness of my one-night history
The best dress I ever had, the best thing in my prom night moment
It's blue-silver accent
Its tail sweep the floor when I walk into the ballroom
It fits me gorgeously when I wear it
It's my prom dress

Love,

Dinda

Comments